diposkan pada : 23-02-2017 10:55:25

Info dan Pemesanan Produk
 Tlpn / SMS : 0812 2505 0232 
  WA : 0857 0928 3237
 PIN BBM : D55C E111 
 

SUPERNASA dan POWER NUTRITION Panduan Pemupukan ini Untuk Pemupukan 1 ha Lahan Kelapa Sawit.

 

Cara atau metode yang digunakan adalah metode tabur/tebar. Metode tabur ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan pupuk kimia atau NPK. Penggunaan pupuk organik Nasa, yaitu POWER NUTRITION & SUPERNASA bisa mengurangi pemakaian pupuk kimia hingga 50%. Namun apabila tidak dikurangi hasilnya akan menjadi lebih baik. Cara Penggunaan : PUPUK NASA POWER NUTRITION 3 kgSUPERNASA 3 kg PUPUK KIMIA Yang biasa dipakai – 1/2 kg per pohon untuk usia di bawah 6 tahun. – 1 kg per pohon untuk usia 6-15 tahun – 2 Kg / pohon untuk usia di atas 15 tahun.. Cara Pemakaian : Campurkan pupuk organik 3 kg POWER NUTRITION + 3 kg SUPERNASA dengan pupuk kimia seperti biasanya. Sebagai contoh untuk tanaman kelapa sawit usia 5 – 6 tahun : 1 ha ada 130 pohon. Untuk itu pupuk kimia yang perlu disediakan adalah 130 kg. Langkah pemupukannya adalah : 1. Sediakan alas untuk tempat pencampuran, misalnya terpal atau yang lainnya. 2. Selanjutnya campurkan POWER NUTRITION 3 kg + SUPERNASA 3 kg dengan 130 kg pupuk kimia tersebut. 3. Tambahkan 10 tutup botol AERO untuk membuat pencampurannya merata dan pupuk NASA bisa lengket kepada pupuk kimianya. 4. Diamkan sekitar 5 menit ditempat yang teduh. 5. Setelah itu tebarkan merata kepada seluruh tanaman kelapa sawit dengan jarak sekitar 70 cm – 100 cm dari batang pokok tanaman. Keterangan : 1. Sebelum pemupukan sebaiknya dilakukan penebaran kapur dolomit sebanyak 2 kg per pokok tanaman kelapa sawit. Selanjutnya sekitar 3 – 5 hari setelah penebaran dolomit baru lakukan pemupukan seperti tata cara urutan di atas. 2. Pemupukan tanaman kelapa sawit dilakukan secara rutin dengan interval setiap 4 bulan sekali untuk hasil lebih optimal. 3. Upayakan untuk melakukan penyiraman di sekitar piringan tanaman kelapa sawit setelah pemupukan setidaknya 10 liter per pokok. Penyiraman tidak perlu dilakukan apabila kondisi curah hujan cukup. 4. Hasil panen sangat bervariasi dan berbeda satu sama lain dikarenakan banyak faktor, seperti kondisi lahan, bibit, iklim, serangan hama dan lain sebagainya.
Info dan Pemesanan Produk
 Tlpn / SMS : 0812 2505 0232 
  WA : 0857 0928 3237
 PIN BBM : D55C E111 
 atau kunjungi website kami di http://juara.nasajakarta.top/
 
***********************

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Sumatera Barat

Kediaman gubernur Westkust van Sumatra atau "pantai barat Sumatera" (litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard, 1883-1889)
Nama Provinsi Sumatera Barat bermula pada zaman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), di mana sebutan wilayah untuk kawasan pesisir barat Sumatera adalah Hoofdcomptoir van Sumatra's westkust. Kemudian dengan semakin menguatnya pengaruh politik dan ekonomi VOC, sampai abad ke 18 wilayah administratif ini telah mencangkup kawasan pantai barat Sumatera mulai dari Barus sampai Inderapura.[3]

Seiring dengan kejatuhan Kerajaan Pagaruyung, dan keterlibatan Belanda dalam Perang Padri, pemerintah Hindia Belanda mulai menjadikan kawasan pedalaman Minangkabau sebagai bagian dari Pax Nederlandica, kawasan yang berada dalam pengawasan Belanda, dan wilayah Minangkabau ini dibagi atas Residentie Padangsche Benedenlanden dan Residentie Padangsche Bovenlanden.[4]

Selanjutnya dalam perkembangan administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, daerah ini tergabung dalam Gouvernement Sumatra's Westkust, termasuk di dalamnya wilayah Residentie Bengkulu yang baru diserahkan Inggris kepada Belanda. Kemudian diperluas lagi dengan memasukkan Tapanuli dan Singkil. Namun pada tahun 1905, wilayah Tapanuli ditingkatkan statusnya menjadi Residentie Tapanuli, sedangkan wilayah Singkil diberikan kepada Residentie Atjeh. Kemudian pada tahun 1914, Gouvernement Sumatra's Westkust, diturunkan statusnya menjadi Residentie Sumatra's Westkust, dan menambahkan wilayah Kepulauan Mentawai di Samudera Hindia ke dalam Residentie Sumatra's Westkust, serta pada tahun 1935 wilayah Kerinci juga digabungkan ke dalam Residentie Sumatra's Westkust. Pasca pemecahan Gouvernement Sumatra's Oostkust, wilayah Rokan Hulu dan Kuantan Singingi diberikan kepada Residentie Riouw, dan juga dibentuk Residentie Djambi pada periode yang hampir bersamaan.[3]

Pada masa pendudukan tentara Jepang, Residentie Sumatra's Westkust berubah nama menjadi Sumatora Nishi Kaigan Shu. Atas dasar geostrategis militer, daerah Kampar dikeluarkan dari Sumatora Nishi Kaigan Shu dan dimasukkan ke dalam wilayah Rhio Shu.[3]

Pada awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah Sumatera Barat tergabung dalam provinsi Sumatera yang berpusat di Bukittinggi. Empat tahun kemudian, Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Sumatera Barat beserta Riau dan Jambi merupakan bagian dari keresidenan di dalam Provinsi Sumatera Tengah. Pada masa PRRI, berdasarkan Undang-undang darurat nomor 19 tahun 1957, Provinsi Sumatera Tengah dipecah lagi menjadi tiga provinsi yakni Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, dan Provinsi Jambi. Wilayah Kerinci yang sebelumnya tergabung dalam Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci, digabungkan ke dalam Provinsi Jambi sebagai kabupaten tersendiri. Begitu pula wilayah Kampar, Rokan Hulu, dan Kuantan Singingi ditetapkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau.

Selanjutnya ibu kota provinsi Sumatera Barat yang baru ini masih tetap di Bukittinggi. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat No. 1/g/PD/1958, tanggal 29 Mei 1958 ibu kota provinsi dipindahkan ke Padang.[3]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Danau Diatas, salah satu danau di kabupaten Solok

Pulau sikuai, salah satu kawasan wisata bahari di Padang
Sumatera Barat terletak di pesisir barat bagian tengah pulau Sumatera yang terdiri dari dataran rendah di pantai barat dan dataran tinggi vulkanik yang dibentuk oleh Bukit Barisan. Provinsi ini memiliki daratan seluas 42.297,30 km² yang setara dengan 2,17% luas Indonesia. Dari luas tersebut, lebih dari 45,17% merupakan kawasan yang masih ditutupi hutan lindung. Garis pantai provinsi ini seluruhnya bersentuhan dengan Samudera Hindia sepanjang 2.420.357 km dengan luas perairan laut 186.580 km².[5] Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia termasuk dalam provinsi ini.

Seperti daerah lainnya di Indonesia, iklim Sumatera Barat secara umum bersifat tropis dengan suhu udara yang cukup tinggi, yaitu antara 22,6 °C sampai 31,5 °C. Provinsi ini juga dilalui oleh Garis khatulistiwa, tepatnya di Bonjol, Pasaman. Di provinsi ini berhulu sejumlah sungai besar yang bermuara ke pantai timur Sumatera seperti Batang Hari, Siak, Inderagiri (disebut sebagai Batang Kuantan di bagian hulunya), dan Kampar. Sementara sungai-sungai yang bermuara ke pesisir barat adalah Batang Anai, Batang Arau, dan Batang Tarusan.

Terdapat 29 gunung yang tersebar di 7 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, dengan Gunung Kerinci di kabupaten Solok Selatan sebagai gunung tertinggi, yang mencapai ketinggian 3.085 m. Selain Gunung Kerinci, Sumatera Barat juga memiliki gunung aktif lainnya, seperti Gunung Marapi, Gunung Tandikat, dan Gunung Talang. Selain gunung, Sumatera Barat juga memiliki banyak danau. Danau terluas adalah Singkarak di kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar, disusul Maninjau di kabupaten Agam. Dengan luas mencapai 130,1 km², Singkarak juga menjadi danau terluas kedua di Sumatera dan kesebelas di Indonesia. Danau lainnya terdapat di kabupaten Solok yaitu Danau Talang dan Danau Kembar (julukan dari Danau Diatas dan Danau Dibawah).

Sumatera Barat merupakan salah satu daerah rawan gempa di Indonesia. Hal ini disebabkan karena letaknya yang berada pada jalur patahan Semangko, tepat di antara pertemuan dua lempeng benua besar, yaitu Eurasia dan Indo-Australia.[6] Oleh karenanya, wilayah ini sering mengalami gempa bumi. Gempa bumi besar yang terjadi akhir-akhir ini di Sumatera Barat di antaranya adalah Gempa bumi 30 September 2009 dan Gempa bumi Kepulauan Mentawai 2010.

 

Artikel lainnya »

Artikel lainnya »